Pembelajaran di Indonesia saat ini menghadapi dua tantangan.Tantangan yang
pertama datang dari adanya perubahan persepsi tentang belajar dan tantangan
kedua datangnya dari adanya teknologi informasi dan telekomunikasi (TIK) yang memperlihatkan
perkembangan yang luar biasa. Kontruksivisme pada dasarnya telah menjawab
tantangan yang pertama dengan meredefinisi belajar sebagai proses kontruktif
dimana informasi diubah menjadi pengetahuan melalui proses interpretasi,
korespondensi, representasi, dan elaborasi. Sementara itu, kemajuan TIK yang
begitu pesat yang menawarkan berbagai kemudahan dalam pembelajaran memungkinkan
terjadinya pergeseran orientasi belajar dari outside-guided menjadi selfguided
dan dari knowledge-as-possesion menjadi knowledge-as-construction (Nugroho,
2010).
Pembelajaran bahasa Arab di Madrasah Aliyah pada prinsipnya berupaya
mengembangkan keterampilan berkomunikasi lisan dan tulisan untuk memahami dan
mengungkapkan informasi, pikiran, perasaan serta mengembangkan ilmu
pengetahuan, tekhnologi, dan budaya. Sesuai dengan fungsinya sebagai alat untuk
menyampaikan dan menyerap gagasan-gagasan, pikiran, pendapat dan perasaan baik
secara lisan maupun tertulis. Maka dipersiapkanlah satu kurikulum yang mampu
membantu siswa dalam mencapaian keterampilan dasar awal berbahasa Arab, dengan
didukung unsur- unsur kebahasaan seperti: istima’, kalam, qira’ah dan kitabah.
Keempat aspek tersebut saling berhubungan dalam materi pembelajaran bahasa Arab
khususnya mufradat dan qawaid.
Kenyataan saat ini, pembelajaran bahasa Arab menghadapi beberapa kendala
yang krusial antara lain: Pertama, waktu yang disediakan terbatas dengan muatan
materi yang begitu padat namun memang penting, yakni menuntut pemantapan pengetahuan hingga terbentuk watak dan kepribadian. Kedua,
adalah kurangnya keikutsertaan guru mata pelajaran lain dalam memberi motivasi
kepada peserta didik untuk mempraktekkan nilai-nilai bahasa Arab dalam
kehidupan sehari-hari. Ketiga, lemahnya sumber daya guru dalam pengembangan pendekatan
dan metode yang lebih variatif. Keempat, minimnya berbagai sarana pelatihan dan
pengembangan, serta rendahnya peran serta orang tua peserta didik. Kelima,
pelaksanaan pembelajaran bahasa Arab di Madrasah Aliyah masih dinilai sebagai proses
belajar mengajar yang hanya mengarah pada dimensi kognitif, sedangkan
pengembangan afektif dan psikomotor belum cukup mendapat perhatian. Sebagai
akibatnya proses pembelajaran menjadi
kurang efektif, peserta didik menjadi pasif, materi dianggap tidak menarik karena
metode mengajar cenderung monoton dan lebih dari itu guru yang seharusnya menjadi
fasilitator bagi peserta didiknya tetapi
bertindak sebagai informasi dan menjadi pusat
pembelajaran.[1]
Untuk menunjang pembelajaran di kelas diperlukan sarana dan prasarana
pendukung berupa alat bantu atau media. Dalam dunia pendidikan, sering kali
istilah alat bantu atau media komunikasi digunakan secara bergantian atau
sebagai pengganti istilah media pendidikan (pembelajaran). Melalui penggunaan
alat bantu berupa media ini memberi harapan meningkatnya hubungan komunikasi
sehinggga dapat berjalan dengan lancar dan dengan hasil yang maksimal. Sebuah
media adalah segala alat fisik yang digunakan untuk menyampaikan isi materi
pengajaran. Dalam pengertian ini, buku/modul, tape recorder, kaset, video
recorder, camera video, televisi, radio, film, slide, foto, gambar, dan
komputer adalah merupakan media pembelajaran.[2]
Guru dan siswa merupakan komponen penting dalam sistem pembelajaran
disekolah. Tidak mungkin ada lembaga sekolah tanpa adanya guru dan siswa.
Keduanya harus ada tugas utama guru adalah mengajar, dan tugas siwa adalah
belajar. Kedua hal tersebut walaupun nampaknya terpisah tetapi pada hakikatnya
tidak dapat dipisahkan. Hal yang dimaksud dengan pola dasar mengajar dalam
pembahasan ini adalah pelaksanaan mengajar pengelolahan kelas yang menjadi
tanggung jawab guru.[3]
Teori belajar Gestalt menyebutkan bahwa pengaruh penggunaan metode dan
pemanfaatan media ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara lain:
Pertama, metode dan
media pembelajaran yang digunakan guru harus dapat mendorong siswa untuk
berfikir kritis dan analitis, dengan demikian media pembelajaran tidak hanya
berisikan materi pelajaran yang harus dikuasai, akan tetapi bagaimana mengemas
materi pelajaran yang dapat merangsang kemampuan siswa untuk berpikir
menggunakan fungsi otak dalam memecahkan suatu persoalan.
Kedua, proses
pembelajaran sebaiknya dimulai dari keseluruhan terlebih dahulu. Media
pembelajaran harus dirancang dengan memperkenalkan terlebih dahulu satu
kesatuan yang utuh dari setiap persoalan yang akan dibahas, setelah itu baru
dipecah-pecah menadi unit-unit terkecil.
Ketiga, penggunaan
metode pembelajaran perlu disesuaikan dengan tingkat keampuan dasar dan
pengalaman siswa sebagai subyek belajar. Oleh karenanya proses merancang media
pembelajaran, yang harus didahului oleh studipendahuluan yang mendalam tentang
siswa itu sendiri, baik latar belakang kehidupan, usia rata-rata siswa, keadaan
sosial ekonomi, kebiasaan siswa dan lain sebagainya.[4]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar