Sabtu, 15 Desember 2018

UAS E-Learning Mufida Royyan 932502215


Pembelajaran di Indonesia saat ini menghadapi dua tantangan.Tantangan yang pertama datang dari adanya perubahan persepsi tentang belajar dan tantangan kedua datangnya dari adanya teknologi informasi dan telekomunikasi (TIK) yang memperlihatkan perkembangan yang luar biasa. Kontruksivisme pada dasarnya telah menjawab tantangan yang pertama dengan meredefinisi belajar sebagai proses kontruktif dimana informasi diubah menjadi pengetahuan melalui proses interpretasi, korespondensi, representasi, dan elaborasi. Sementara itu, kemajuan TIK yang begitu pesat yang menawarkan berbagai kemudahan dalam pembelajaran memungkinkan terjadinya pergeseran orientasi belajar dari outside-guided menjadi selfguided dan dari knowledge-as-possesion menjadi knowledge-as-construction (Nugroho, 2010).
Pembelajaran bahasa Arab di Madrasah Aliyah pada prinsipnya berupaya mengembangkan keterampilan berkomunikasi lisan dan tulisan untuk memahami dan mengungkapkan informasi, pikiran, perasaan serta mengembangkan ilmu pengetahuan, tekhnologi, dan budaya. Sesuai dengan fungsinya sebagai alat untuk menyampaikan dan menyerap gagasan-gagasan, pikiran, pendapat dan perasaan baik secara lisan maupun tertulis. Maka dipersiapkanlah satu kurikulum yang mampu membantu siswa dalam mencapaian keterampilan dasar awal berbahasa Arab, dengan didukung unsur- unsur kebahasaan seperti: istima’, kalam, qira’ah dan kitabah. Keempat aspek tersebut saling berhubungan dalam materi pembelajaran bahasa Arab khususnya mufradat dan qawaid.
Kenyataan saat ini, pembelajaran bahasa Arab menghadapi beberapa kendala yang krusial antara lain: Pertama, waktu yang disediakan terbatas dengan muatan materi yang begitu padat namun memang penting, yakni menuntut pemantapan pengetahuan hingga terbentuk watak dan kepribadian. Kedua, adalah kurangnya keikutsertaan guru mata pelajaran lain dalam memberi motivasi kepada peserta didik untuk mempraktekkan nilai-nilai bahasa Arab dalam kehidupan sehari-hari. Ketiga, lemahnya sumber daya guru dalam pengembangan pendekatan dan metode yang lebih variatif. Keempat, minimnya berbagai sarana pelatihan dan pengembangan, serta rendahnya peran serta orang tua peserta didik. Kelima, pelaksanaan pembelajaran bahasa Arab di Madrasah Aliyah masih dinilai sebagai proses belajar mengajar yang hanya mengarah pada dimensi kognitif, sedangkan pengembangan afektif dan psikomotor belum cukup mendapat perhatian. Sebagai akibatnya proses pembelajaran  menjadi kurang efektif, peserta didik menjadi pasif, materi dianggap tidak menarik karena metode mengajar  cenderung monoton  dan lebih dari itu guru yang seharusnya menjadi fasilitator  bagi peserta didiknya tetapi bertindak sebagai informasi dan menjadi pusat  pembelajaran.[1]
Untuk menunjang pembelajaran di kelas diperlukan sarana dan prasarana pendukung berupa alat bantu atau media. Dalam dunia pendidikan, sering kali istilah alat bantu atau media komunikasi digunakan secara bergantian atau sebagai pengganti istilah media pendidikan (pembelajaran). Melalui penggunaan alat bantu berupa media ini memberi harapan meningkatnya hubungan komunikasi sehinggga dapat berjalan dengan lancar dan dengan hasil yang maksimal. Sebuah media adalah segala alat fisik yang digunakan untuk menyampaikan isi materi pengajaran. Dalam pengertian ini, buku/modul, tape recorder, kaset, video recorder, camera video, televisi, radio, film, slide, foto, gambar, dan komputer adalah merupakan media pembelajaran.[2]
Guru dan siswa merupakan komponen penting dalam sistem pembelajaran disekolah. Tidak mungkin ada lembaga sekolah tanpa adanya guru dan siswa. Keduanya harus ada tugas utama guru adalah mengajar, dan tugas siwa adalah belajar. Kedua hal tersebut walaupun nampaknya terpisah tetapi pada hakikatnya tidak dapat dipisahkan. Hal yang dimaksud dengan pola dasar mengajar dalam pembahasan ini adalah pelaksanaan mengajar pengelolahan kelas yang menjadi tanggung jawab guru.[3]
Teori belajar Gestalt menyebutkan bahwa pengaruh penggunaan metode dan pemanfaatan media ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara lain:
Pertama, metode dan media pembelajaran yang digunakan guru harus dapat mendorong siswa untuk berfikir kritis dan analitis, dengan demikian media pembelajaran tidak hanya berisikan materi pelajaran yang harus dikuasai, akan tetapi bagaimana mengemas materi pelajaran yang dapat merangsang kemampuan siswa untuk berpikir menggunakan fungsi otak dalam memecahkan suatu persoalan.
Kedua, proses pembelajaran sebaiknya dimulai dari keseluruhan terlebih dahulu. Media pembelajaran harus dirancang dengan memperkenalkan terlebih dahulu satu kesatuan yang utuh dari setiap persoalan yang akan dibahas, setelah itu baru dipecah-pecah menadi unit-unit terkecil.
Ketiga, penggunaan metode pembelajaran perlu disesuaikan dengan tingkat keampuan dasar dan pengalaman siswa sebagai subyek belajar. Oleh karenanya proses merancang media pembelajaran, yang harus didahului oleh studipendahuluan yang mendalam tentang siswa itu sendiri, baik latar belakang kehidupan, usia rata-rata siswa, keadaan sosial ekonomi, kebiasaan siswa dan lain sebagainya.[4]




[1] Azhar Arsyad. Bahasa Arab dan Metode Pembelajarannya, Cet 1. (Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2003), hlm, 21-22
[2] M. Taufiq, N. R. Dewi, A. Widiyatmoko / JPII 3 (2) (2014) 140-145
[3] Wina Sanjaya, MEDIA KOMUNIKASI PEMBELAJARAN(Prenadamenia,Jakarta,2012)1
[4] Wina Sanjaya, MEDIA.,37

Tidak ada komentar:

Posting Komentar